Derby della Capitale – Lazio vs Roma

Derby della Capitale - Lazio vs Roma

Derby della Capitale – Lazio vs Roma – Banyak penggemar sepakbola terutama mereka yang tidak familiar dengan Serie A akan menganggap Inter Milan vs AC Milan sebagai laga derby yang terbesar di sepakbola Italia. Padahal sejatinya tidak ada yang bisa menandingi pertandingan derby yang terjadi di ibukota Italia, Lazio berhadapan AS Roma dalam hal gairah, kebanggaan dan ( yang disayangkan ) kekerasan yang terjadi seputar pertandingan. 

Daftar Sbobet Bola secara Gratis dan Raih Cashback sebesar 10% khusus untuk Permainan Sportsbook

Historis 

Dari awal pendiriannya saja kedua klub ini telah saling bertolak belakang dan dapat dimengerti kenapa pada perkembangannya pendukung kedua tim ini jadi saling membenci satu sama lainnya.

AS Roma berdiri atas penggabungan tiga dari empat klub yang ada di kota Roma yaitu Roman, Alba-Audace dan Fortitudo. Penggabungan ini diperintahkan secara langsung oleh rezim Fasis yang berkuasa ketika itu dalam upayanya untuk menentang dominasi klub-klub asal Utara.

Lazio yang juga merupakan salah satu klub yang berbasis di kota Roma menjadi satu-satunya klub yang menolak untuk bergabung dan hingga kini memilih entitas yang terpisah. Di sinilah segala persaingan dan intrik antara kedua klub dimulai

Secara historis, pendukung AS Roma merupakan penduduk sebelah Selatan kota Roma yang berhaluan politik sayap kiri ( Sosialis / Demokrasi sosial ) sedangkan pendukung Lazio umumnya berasal dari daerah utara kota Roma yang memiliki tingkat kemakmuran lebih dan beraliran politik sayap kanan ( liberalis ).

Itulah pula sebabnya pengambilan tempat duduk di dalam stadion juga selalu bertolak belakang dengan Ultras Lazio di Curva Nord sedangkan Ultras Roma mengisi posisi di Curva Sud.

Oleh pendukung AS Roma, fans Lazio selalu dianggap sebagai orang luar karena asal-usul mereka yang memang kebanyakan berasal dari luar kota Roma. Sementara bagi fans Lazio, merekalah yang membawa sepakbola ke kota Roma ( Lazio berdiri lebih dulu ditahun 1900 sedangkan AS Roma baru berdiri 27 tahun kemudian )

Derby Adalah Segalanya

Pertandingan Derby dipandang sebagai medan pertempuran untuk mempertaruhkan reputasi sebagai klub terbaik di kota Roma. Penggemar kedua kubu saling membenci, tapi istilah membenci ini bisa jadi masih terlalu ringan untuk menggambarkan ketidaksukaan mereka satu dengan yang lainnya. Terutama setelah apa yang sering dan kerap terjadi antara kedua pendukung tim ini.

Bahkan tak jarang kebencian terhadap tim rival melebihi kecintaan terhadap timnya sendiri. Tak percaya ? coba lihat apa yang terjadi pada tahun 2010 ketika suporter Lazio meminta timnya untuk mengalah pada Inter Milan.

Kala itu, Inter Milan memang sedang berjuang habis-habisan dengan AS Roma dalam jalur Scudetto. Kemenangan Inter Milan akan semakin memuluskan langkah mereka. Namun gilanya, saat itu Lazio berada di peringkat 17 klasemen dan hanya memiliki selisih 4 poin saja dari zona degradasi, kalah dari Inter tentunya akan membuat mereka semakin terperosok.

Namun nyatanya, pendukung Lazio justru lebih memilih mereka terdegradasi ketimbang melihat rival utama berpesta meraih scudetto. Hal tersebut dapat terlihat dengan jelas dari spanduk-spanduk yang dibentangkan oleh suporter Lazio ketika pertandingan berlangsung.

“Jika sampai menit ke 80 Lazio menang, kami akan menyerbu ke lapangan!”, “Nando (Menunjuk kepada Fernando Muslera Kiper Lazio), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu.” “Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires.”

Tingkah polah yang aneh ini tak pelak hingga membuat Jose Mourinho, pelatih Inter Milan ketika itu geleng-geleng kepala. ” Saya belum pernah melihat yang seperti ini ” katanya usai pertandingan. Bahkan Rosella Sensi, presiden Roma mengecam keras tindakan para pendukung Lazio tersebut dengan menyebutnya sebagai anti fair-play.

Kerusuhan, Rasial dan Ultras

Pendukung Lazio kerap membentangkan spanduk-spanduk rasis pada pertandingan dan beberapa Ultras ( istilah yang merujuk pada kelompok suporter garis keras di Italia ) telah menggunakan Swastika sebagai simbol. Padahal simbol ini diharamkan dan sangat terlarang di Eropa, karena mengingatkan pada kekejaman Nazi Jerman di perang dunia ke II dulu.

Sebagian kecil dari pendukung dan suporter Lazio bahkan menunjukkan dukungan mereka terhadap penjahat perang Serbia pada tahun 2000.

Dan lebih parahnya lagi, Ultras tidak hanya di miliki oleh Lazio namun juga AS Roma ! Maka jadilah dalam beberapa pertandingan yang berlangsung sering dibumbui oleh pesan-pesan rasialis dari kedua kubu suporter.

Pada tahun 2005, Paolo di Canio memberi hormat fasis setelah pertandingan berlangsung. Pada tahun 1979, seorang penggemar Lazio terkena lemparan Flare yang dilakukan oleh para pendukung AS Roma tepat di matanya dan terbunuh.  Vincenzo Paparelli menjadi orang pertama yang meninggal akibat kekerasan yang berhubungan dengan sepakbola di Italia.

Hingga pada tahun 2004 sebuah kerusuhan pecah dalam salah satu insiden terburuk dalam beberapa dekade terakhir di Italia. Kerusuhan yang terjadi akibat salah komunikasi tersebut menyebabkan 170 polisi dan banyak penggemar luka-luka.

Derby della Capitale

Di atas lapangan, salah satu pertandingan yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir mungkin adalah ” Derby della Capitale ” pada tahun 1998. Pertandingan begitu intens, panas dan penuh kontroversial dari menit awal hingga akhir.

Sebelum pertandingan berlangsung, AS Roma telah bertekad untuk menghentikan dominasi Lazio yang dalam empat game derby terakhir berhasil di menangkan oleh Biancocelesti. Roma membutuhkan kemenangan bukan saja demi meraih tiga poin namun juga demi menghentikan pelecehan dan tindakan rasialis dari pendukung Lazio.

AS Roma berhasil memimpin lebih dulu namun itu hanya untuk disamakan oleh Roberto Mancini bahkan Mancio membawa Lazio berbalik memimpin. Keadaan bertambah parah untuk Roma ketika Lazio mendapatkan penalti dibabak kedua yang membawa skor menjadi 3-1 untuk keunggulan tim biru langit. Namun ketika hampir semua orang menduga bahwa Lazio akan kembali memenangkan pertandingan, keajaiban terjadi.

Roma melakukan Comeback luar biasa, mencetak dua gol hanya dalam waktu 10 menit. Bahkan masih ada waktu bagi Roma untuk mencetak sebuah gol lagi namun sayang dianulir karena offside.

Kemudian pada musim 1998/1999, Lazio yang kala itu menjadi salah satu tim favorit meraih gelar juara harus meratapi nasib gagal menjadi Scudeto di pertandingan terakhirnya akibat disalib oleh AC Milan yang unggul satu poin. Padahal Lazio sempat memimpin klasemen hingga 7 poin. Salah satu penyebab kegagalan Lazio meraih gelar juara adalah karena kekalahan 1-3 atas AS Roma.

Pada bulan Maret 2002 adalah pertemuan lainnya yang mengesankan yaitu ketika AS Roma berhasil mengalahkan Lazio 5-1. AS Roma yang ketika itu dilatih oleh Fabio Capello memimpin lebih dulu dan sejak itu terus memimpin yang di akhiri oleh empat gol dari Vincenzo Montella yang mencatatkan kekalahan terbesar Lazio dalam Derby della Capitale.

Romulus dan Remus

Derby Della Capitale akan selalu menjadi bagian dari cerita kota Roma. Cerita yang romantismenya tak akan kalah dari legenda Romulus dan Remus, dua bersaudara dalam mitologi Romawi yang diyakini sebagai pendiri kota Roma.

Meskipun bersaudara, hubungan antara Romulus dan Remus bukan tanpa perselisihan. Untuk meraih tampuk kekuasaan, mereka harus saling membunuh. Perseteruan ini baru berakhir saat Romulus membunuh Remus. Dan kondisi serupa harus terjadi di laga nanti malam, siapakah yang akan mengikuti jejak Remus?

Hebatbet merupakan Agen Sbobet dan Agen Maxbet terpercaya di Indonesia, lakukan pendaftaran secara gratis untuk mendapatkan akunnya dan Raih berbagai bonus menarik dari kami dengan cara mengklik saja tautan berikut ini :

Be the first to comment

Leave a Reply